Rabu, 21 Oktober 2015 - 0 komentar

MADLUUL ASY SYAHAADAH (Kandungan Kalimat Syahadat)


MADLUUL ASY SYAHAADAH 
(Kandungan Kalimat Syahadat)


Syahadatain begitu berat diperjuangkan oleh para sahabat, bahkan mereka sedia dan tidak takut terhadap segala ancaman kafir. Sahabat nabi misalnya Habib berani menghadapi siksaan dari Musailamah yang memotong tubuhnya satu persatu, Bilal Bin Rabah tahan menerima himpitan batu besar ditengah hari dan sederet nama lainnya. Mereka mempertahankan syahadatain. Muncullah pertanyaan kenapa mereka bersedia dan berani mempertahankan kalimat syahadah ? Ini disebabkan karena kalimat syahadah mengandung makna yang sangat mendalam bagi mereka.


Syahadah atau syahadat berasal dari kata syahida, yang berarti “memberi tahu dengan berita yang pasti” atau “mengakui apa yang diketahui” (Al-Mu’jam Al-Wasith). Dari makna bahasa ini, kita mendapati beberapa makna yang diisyaratkan Al-Qur’an tentang kata ini.


1⃣ Al-Iqraar (Pernyataan)

Syahadat merupakan sebuah pernyataan (ikrar), yaitu suatu statement seorang muslim mengenai keyakinannya. Ini adalah pernyataan yang sangat kuat karena didukung oleh Allah SWT, malaikat, dan orang-orang yang berilmu (para nabi dan orang yang beriman).  

Syahadat yang berarti ikrar dari Allah SWT, malaikat dan orang-orang yang berilmu tentang Laa Ilaaha Illa Allah.


Hal ini sebagaimana dalam firman Allah SWT,

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴿١٨﴾

”Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran: 18)

Dalam ayat lain disebutkan bahwa sesungguhnya sebelum manusia dilahirkan, manusia telah berikrar atau memberikan kesaksian bahwa Allah SWT adalah Tuhan para manusia (Tauhid Rububiyatullah). Hal ini diingatkan Allah SWT dalam ayat berikut ini,

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ﴿١٧٢﴾

”Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)”. (Al-A’raf: 172).

Selain itu, para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW, seluruhnya telah berikrar mengakui kerasulan Muhammad SAW meskipun mereka hidup sebelum kedatangan Rasulullah SAW. Allah SWT mengingatkan hal ini dalam firman-Nya,

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُم مِّن كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنصُرُنَّهُ ۚ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَىٰ ذَٰلِكُمْ إِصْرِي ۖ قَالُوا أَقْرَرْنَا ۚ قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُم مِّنَ الشَّاهِدِينَ﴿٨١﴾

”Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa Kitab dan hikmah Kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para Nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.” (QS. Ali Imran: 81).


2⃣Al-Qosam (Sumpah)

Syahadat juga bermakna sumpah. Sumpah ini merupakan hasil dari ikrar yang telah dijelaskan di atas. Dibalik ikrar, wajib bagi kita untuk menegakkan dan memperjuangkan apa yang diikrarkan. Oleh karena itu pada hakikatnya sumpah (qosam) adalah pernyataan kesediaan menerima akibat dan risiko apapun dalam mengamalkan syahadah. Artinya, muslim yang menyebut asyhadu berarti siap dan bertanggung-jawab terhadap tegaknya Islam. Pelanggaran terhadap sumpah ini adalah kemunafikan dan tempat orang munafik adalah neraka Jahanam.

Jika ditadabburi dalam Al-Qur’an, sesungguhnya orang-orang munafik berlebihan dalam pernyataan syahadahnya, padahal mereka tidak lebih sebagai pendusta. Lihat ayat berikut ini,

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ﴿١﴾اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴿٢﴾

”Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang Telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 1-2)


Beberapa ciri orang yang melanggar sumpahnya yaitu memberikan wala kepada orang-orang kafir, memperolok-olok ayat Allah, mencari kesempatan dalam kesempitan kaum muslimin, menunggu-nunggu kesalahan kaum muslimin, malas dalam shalat dan tidak punya pendirian. Sedangkan orang-orang mukmin yang sumpahnya teguh tidak akan bersifat seperti tersebut. Allah SWT berfirman,

”Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka Sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. Dan sungguh Allah Telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al-Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), Maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena Sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam, (yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: “Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?” dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: “Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?” Maka Allah akan memberi Keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman. Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan Ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), Maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)? Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. An-Nisa’: 138-145).


3⃣Al-Miitsaaq ( perjanjian yang teguh )

Mitsaq yaitu janji setia untuk mendengar dan taat dalam segala keadaan terhadap semua perintah Allah SWT yang terkandung dalam kitabullah maupun Sunah Rasul.

Syahadah juga merupakan perjanjian yang teguh (mitsaq) yang harus diterima dengan sikap sam’an wa tho’atan (kami dengar dan kami taat) didasari dengan iman yang sebenarnya terhadap Allah, Malaikat, Kitab-kitab, Rasul-rasul, Hari Akhir dan Qadar baik maupun buruk.

Allah SWT mengingatkan kita tentang hal ini,

وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمِيثَاقَهُ الَّذِي وَاثَقَكُم بِهِ إِذْ قُلْتُمْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ﴿٧﴾

”Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang Telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan, ’Kami dengar dan kami taati.’ dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah mengetahui isi hati(mu).” (Al-Maidah: 7)

Rasul telah mencontohkan hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an,

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ ﴿٢٨٥﴾

”Rasul Telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa): “Ampunilah kami Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah: 285).

Pelanggaran terhadap mitsaq akan berakibat laknat Allah seperti yang pernah terjadi pada orang-orang Yahudi.

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ وَاسْمَعُوا ۖ قَالُوا سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَأُشْرِبُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ ۚ قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُم بِهِ إِيمَانُكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ﴿٩٣﴾

”Dan (ingatlah), ketika kami mengambil janji dari kamu dan kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya kami berfirman), ’Peganglah teguh-teguh apa yang kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!’ me menjawab, ’Kami mendengar tetapi tidak mentaati.’ Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah, ’Amat jahat perbuatan yang telah diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat).’” (QS. Al-Baqarah: 93)

Wallahu a'lam bisshowab
Selasa, 20 Oktober 2015 - 0 komentar

Antara iman dan amal

📗7📗iman/amal ⭐️
=================
Antara Iman dan Amal 
=================

بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم


📺Sesungguhnya tingkat keimanan seseorang itu sangat menentukan kualitas hidupnya.
Kwalitas disini yang dimaksud adalah yang terkait dengan penghayatan diri dalam menghamba kepada Allah yang ia praktekkan dalam seluruh aspek kehidupannya.

💻 Seseorang yang memperhatikan naik turunnya keimanannya akan mengetahui apa yang sejatinya paling berharga dalam hidupnya. Sehingga ia akan segera menata keadaan pikirannya, waktunya, tujuan utama yang menjadi target-target hidupnya serta seluruh aktivitas hariannya dari yang urusan sepele sampai yang urusan besar.

📝Keimanan kepada Allah adalah modal dan harta terbesar dalam hidup seorang Muslim.

📋Akan tetapi, sayangnya Keimanan itu tidak akan pernah sampai kepada Allah subhanahu wa ta'alaa jika tidak diiringi oleh amal sholih yang disyariatkan oleh Agama.

📖Dalam Al-Qur'an, iman dan amal sholih seringkali disebutkan secara beriringan.

".. الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ "

Sekurang-kurangnya hal ini terulang dalam 60-an ayat dalam berbagai surat. Kata 'shaalihaat' sendiri terulang sebanyak 62 kali. Hal ini semakin mengindikasikan bahwa iman dan amal sholih adalah sebuah totalitas utuh yang mesti kita aktualisasikan dalam kehidupan kita sehari-hari oleh seorang yang sudah mengaku beriman.

📜Untuk mengakui kesungguhan keimanan seseorang maka perlu pembuktian, karenanya Allah ta'alaa turunkan kepada orang-orang yang beriman itu berbagai ujian dan cobaan. Sehingga Dia akan mengetahui siapa yang benar-benar beriman kepada-Nya.

📄Mengingat betapa pentingnya memikirkan tentang kondisi keimanan dirinya, maka seorang Muslim perlu mengetahui bagaimana agar bisa menjaga keimanan itu, sehingga ia memiliki ketahanan dalam menghadapi gempuran cobaan dan ujian hidup.

Karenanya bersegera menata semuanya yang terkait dengan keimanan dan kondisi amal kita adalah sikap yang cerdas dan akan membawa keberuntungan besar baik di dunia maupun kelak di akhirat.
Jika kita tidak memperhatikan hal ini, maka akan besar peluang jin/ syetan untuk masuk ke dalam tubuh kita dan menguasai diri kita.

Jika syetan (bangsa jin yang jahat) berhasil masuk kedalam diri seseorang Muslim maka akan banyak kekacuan yang terjadi pada dirinya. Karena tujuan utama syetan-syetan itu adalah berusaha mengalihkan pikirannya dari beriman kepada Allah. Syetan juga menginkan keadaan yang kalaupun ia telah beriman maka kwalitas imannya rendah, yang tipis sehingga rentan dengan gempuran2 ujian, mudah tertipu oleh syetan, sehingga munculah sifat kufur dan rasa putus asa.

Karena iman yang tipis maka hati seseorang tidak akan mampu menjadi penopang semangatnya untuk mengerjakan amal sholih. 

Padahal tuntutan Allah kepada setiap Mukmin adalah beriman dan beramal sholih. Bukan hanya sekeder beriman saja. Tetapi amalnya tidak sholih, artinya tidak mengikuti aturan Allah dan Rasululallah sholallahu 'alaihi wasalam. Yang diikuti justru amal-amal yang dituntunkan (dibisikkan) oleh syetan yang bersembunyi didalam diri kita. 

Inilah fenomena yang biasa terjadi didalam diri seseorang yang kurang memberi perhatian kepada keadaan iman dan amalnya setiap saat yang mereka lalui.

Untuk lepas dari kondisi keterpurukan yang berkepanjangan maka setiap diri harus mulai benar2 berfikir dan bertekad untuk menjadi baik dan semakin baik terus hingga akhir usianya.

📑Diantara usaha-usaha utama yang harus  diprioritaskan untuk menempuh jalan istiqomah menjadi pribadi yang sholih yang seimbang antara Iman dan Amalnya berikut adalah hal2 yang bisa dilakukan :

1⃣ Mempelajari ilmu Syar'i.
2⃣ Menjaga Sholat Fardhu
3⃣ Memperbanyak Baca Alqur'an dan men-tadabburi-nya.
4⃣ Memahami nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya.
5⃣Menghayati perjalanan hidup Rasul-Nya dan meneladani-Nya.
6⃣ Menghayati keagungan Syari'at agama-Nya.
7⃣ Mentadabburi Ciptaan-Nya.
8⃣ Bersemangat dalam beramal shalih dengan ikhlas karena-Nya
9⃣ Bergaul dengan hamba- hamba-Nya yang shalih, yang menunaikan hak-hak Rabb-Nya dan makhluk-Nya
🔟 Melazimkan Lafaz-lafaz Dzikir.

➡Di samping itu, untuk mencapai kesempurnaan pribadi yang beriman dan beramal sholih, maka perlu selalu waspada terhadap kondisi- kondisi berikut :

1⃣ Bodoh terhadap ilmu Agama.
2⃣Melakukan kemaksiatan secara terus menerus tanpa ada keinginan dan usaha kuat untuk bertaubat.
4⃣Mengikuti bisikan- bisikan syetan.
5⃣Bergaul dengan teman-teman yang berahlaq buruk dan tidak perduli dengan urusan Agamanya.

Demikian pemaparan ini terkait keimanan dan amal.
Semoga kita senantiasa diberi taufiq dan hidayah untuk menuju kesempurnaan iman dan penghambaan yang sejati kepada Rabb kita , Allahu azza wa jallaa...
Aamiin.

➡Wash shalallaahu 'ala Nabiyyina Muhammadin wa 'ala aalihi wa shahbihi wa sallim wa aakhiru da'wana alhamdulillaahi Rabbil 'aalamiin.


وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

Oleh : Endria
Rabu, 07 Oktober 2015 - 0 komentar

Asmaul husna ar razaq

Asmaul Husna:
Allah ar Rozaq
Maha Pemberi Rizki


Ini adalah salah satu poin keimanan yang paling penting karena rizki merupakan hal yang paling dicari manusia dalam kehidupannya.

Kurangnya keimanan dalam hal ini akan berujung pada banyak kemaksiatan; makanan haram, harta haram, dll.

Beriman bahwa Allah lah satu-satunya Dzat yang Memberikan Rizki dengan sebenarnya juga adalah bagian tauhid yg paling utama.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ

Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?

Fathir ayat 3

Selain kepada orang-orang beriman, Allah juga memberikan rizkinya kepada mereka yang kafir, dikarenakan sunnatullah, hukum sebab akibat, yg telah ditetapkanNya.

Namun, kenikmatan yg didapat oleh mereka yg kafir, sering kali tidak bertahan lama, tidak menyentuh ketenteraman jiwa, jauh dari keberkahan, atau, kalaupun bertahan, hanya bertahan di dunia, tidak bermanfaat di akhirat.

Karena itu, orang-orang beriman mengharapkan rizki yg berbeda; langgeng, berkah, dan memberi manfaat di akhirat.

ar Rizqu dimaknai oleh para ulama sebagai al Hazhzhu, artinya bagian.

Maknanya adalah, rizki itu sudah ditetapkan Allah sebagai "bagian" atau "porsi" untuk seseorang. Karena itu sbagian ulama mengatakan; seseorang akan mendapatkan "porsinya", apakah dia mncarinya dg cara yg haram, ataupun cara yg halal.

Dalam kondisi demikian, apakah kita memilih mencari rizki kita dengan cara yg haram? Padahal kita akan mendapatkan "porsi" yang sama jika kita mnempuh cara yg halal.

Rizki tidak hanya terkait dg uang. Tapi juga mencakup nikmat2 Allah yg lebih luas; kehidupan yg baik, sekolah yg lancar , pekerjaan dan usaha, jodoh, keluarga, dll.

Keimanan bahwa Allah ar Rozaq, Maha Memberi Rizki harus terwujud dalam 2 amalan utama;

Ikhtiar dan Tawakkal

A. ikhtiar. dalil2 tentang ini sangat gamblang.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ

Sesungguhya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan mereka sendiri
(ar Ra'du 11)

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).
(ar Rahman 60)

intinya, Allah melihat setiap upaya kita, dan pasti ada ganjarannya.

Siti Hajar yang "hanya" berlari-lari dari shofa ke marwa, mendapatkan rizki luar biasa berupa mata air yg tdk kering hingga sekarang.

B. Tawakkal

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ 

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.
(ath Tholaq 3)

tawakkal berarti keimanan bahwa rizki itu hanya dari Allah, dan Allah sudah mengaturnya. saat ikhtiar tdk berbuah hasil sesuai keinginan, maka jangan lupakan tawakkal.

bukankah Siti Hajar berlari ke Shofa dan ke Marwa, tapi air zam zam justru muncul dari bawah kaki Ismail?


Kunci-Kunci Rizki

Kita akan sebutkan beberapa saja di antara kuncinya yg begitu banyak..

1. Berusaha/Ikhtiar

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ

Sesungguhya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan mereka sendiri
(ar Ra'du 11)

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).
(ar Rahman 60)

2. Tawakkal

 وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.
(ath Tholaq 3)

Tawakkal berarti keimanan bahwa rizki itu hanya dari Allah, dan Allah sudah mengaturnya. Saat ikhtiar tdk berbuah hasil sesuai keinginan, maka tawakkal dapat membuahkan hasil yg melebihi keinginan.

3. Berdoa

Dengan sungguh2 meminta rizki, bangun di sepertiga malam, cari waktu yg maqbul.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ 

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, 
(al Baqarah:186)

4. Silaturahim

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia bersilaturahim.” 
(HR.  Bukhari dan Muslim)

5. Menjauhi dosa

َإِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيْبُهُ

".. Sesungguhnya seorang manusia kerap terhalang dari rezeki disebabkan dosa yang dilakukannya."
(HR. Ibnu Majah, shahih)

6. Sholat shubuh berjamaah di masjid (bagi lelaki) atau di awal waktu (bagi wanita)

إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).
(al Isra 78)

مَنْ صَلَّى صَلَاةَ الصُّبْحِ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ 
"Barangsiapa sholat shubuh maka dia berada dalam jaminan Allah 
(HR. Muslim)

Syariat sholat shubuh adalah berjamaah di masjid bagi lelaki dan awal waktu bagi wanita.

7. Bersedekah di pagi hari.

 مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا

وَيَقُولُ الْآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا (البخاري)

“Tidak ada satu pagi pun yang dialami hamba-hamba Allah kecuali turun kepada mereka dua malaikat. Salah satu di antara keduanya berdoa: “Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfaq”, sedangkan yang satu lagi berdoa “Ya Allah, berilah kerusakan bagi orang yang menahan (hartanya)” 
(HR Bukhari)
Senin, 05 Oktober 2015 - 0 komentar

Perjalanan seorang mukmin

Bismillah...
PERJALANAN SEORANG MUKMIN

الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ، يَقُولُ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَنَازَةِ رَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ فَانْتَهَيْنَا إِلَى الْقَبْرِ وَلَمَّا يُلْحَدْ بَعْدُ، قَالَ: فَقَعَدْنَا حَوْلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَعَلَ يَنْظُرُ إِلَى السَّمَاءِ وَيَنْظُرُ إِلَى الْأَرْضِ، وَجَعَلَ يَرْفَعُ بَصَرَهُ وَيَخْفِضُهُ ثَلَاثًا ثُمَّ قَالَ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ» ثُمَّ قَالَ: «إِنَّ الرَّجُلَ الْمُسْلِمَ إِذَا كَانَ فِي قُبُلٍ مِنَ الْآخِرَةِ وَانْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا جَاءَ مَلَكُ الْمَوْتِ فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ، وَيَنْزِلُ مَلَائِكَةٌ مِنَ السَّمَاءِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الشَّمْسُ مَعَهُمْ أَكْفَانٌ مِنْ أَكْفَانِ الْجَنَّةِ وَحَنُوطٌ مِنْ حَنُوطِ الْجَنَّةِ، فَيَقْعُدُونَ مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ» قَالَ: " فَيَقُولُ مَلَكُ الْمَوْتِ: أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ اخْرُجِي إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ " قَالَ: " فَتَخْرُجُ تَسِيلُ كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ مِنَ السِّقَاءِ، فَلَا يَتْرُكُونَهَا فِي يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ، فَيَصْعَدُونَ بِهَا إِلَى السَّمَاءِ، فَلَا يَمُرُّونَ بِهَا عَلَى جُنْدٍ مِنْ مَلَائِكَةٍ إِلَّا قَالُوا: مَا هَذِهِ الرُّوحُ الطَّيِّبَةُ؟ فَيَقُولُونَ: فُلَانُ بْنُ فُلَانٍ بِأَحْسَنِ أَسْمَائِهِ، فَإِذَا انْتَهَى إِلَى السَّمَاءِ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُشَيِّعُهُ مِنْ كُلِّ سَمَاءٍ مُقَرَّبُوهَا إِلَى السَّمَاءِ الَّتِي تَلِيهَا، حَتَّى يُنْتَهَى إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ، ثُمَّ يُقَالُ: اكْتُبُوا كِتَابَهُ فِي عِلِّيِّينَ، ثُمَّ يُقَالُ: أَرْجِعُوا عَبْدِي إِلَى الْأَرْضِ، فَإِنِّي وَعَدْتُهُمْ أَنِّي مِنْهَا خَلَقْتُهُمْ وَفِيهَا أُعِيدُهُمْ وَمِنْهَا أُخْرِجُهُمْ تَارَةً أُخْرَى، فَتُرَدُّ رُوحُهُ إِلَى جَسَدِهِ، فَتَأْتِيهِ الْمَلَائِكَةُ فَيَقُولُونَ: مَنْ رَبُّكَ؟ قَالَ: فَيَقُولُ: اللَّهُ، فَيَقُولُونَ: مَا دِينُكَ؟ فَيَقُولُ: الْإِسْلَامُ، فَيَقُولُونَ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي خَرَجَ فِيكُمْ؟ قَالَ: فَيَقُولُ: رَسُولُ اللَّهِ، قَالَ: فَيَقُولُونَ: وَمَا يُدْرِيكَ؟ قَالَ: فَيَقُولُ: قَرَأْتُ كِتَابَ اللَّهِ فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ، قَالَ: فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ صَدَقَ فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَأَرُوهُ مَنْزِلَهُ مِنَ الْجَنَّةِ، قَالَ: وَيُمَدُّ لَهُ فِي قَبْرِهِ وَيَأْتِيهِ رَوْحُ الْجَنَّةِ وَرِيحُهَا، قَالَ: فَيُفْعَلُ ذَلِكَ بِهِمْ، وَيَمْثُلُ لَهُ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ الثِّيَابِ طَيِّبُ الرِّيحِ فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ، فَيَقُولُ: مَنْ أَنْتَ فَوَجْهُكَ وَجْهٌ يُبَشِّرُ بِالْخَيْرِ؟ قَالَ: فَيَقُولُ أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ، قَالَ: فَهُوَ يَقُولُ: رَبِّ أَقِمِ السَّاعَةَ كَيْ أَرْجِعَ إِلَى أَهْلِي وَمَالِي، ثُمَّ قَرَأَ {يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ} [إبراهيم: ٢٧] .

Seorang mukmin apabila telah tiba masa meninggal dunia dan menuju akhirat:

1. Ia akan didatangi oleh para malaikat dari langit yang wajahnya putih seakan-akan sinar matahari. Mereka membawa kain kafan dari surga dan wewangian dari surga.

2. Para malaikat itu berjumlah sangat banyak seluas mata memandang dan duduk di dekatnya.

3. Malaikat maut (pencabut nyawa) datang lalu duduk di dekat kepalanya.

4. Malaikat mau mengatakan kepadanya, "Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dan kerelaan Allah."

5. Lalu nyawanya keluar seperti keluarnya air dari mulut teko (kendi).

6. Malaikat maut mengambilnya.

7. Kurang dari satu kedipan mata nyawanya sudah dipindahkan ke dalam kafan dan wewangian yang telah disiapkan sebelumnya oleh para malaikat.

8. Nyawanya keluar dengan menyebarkan aroma paling wangi di dunia.

9. Para malaikat membawanya naik ke langit.

10. Setiap bertemu dengan rombongan malaikat lain, mereka bertanya, "Nyawa siapa ini wangi sekali?"

11. Mereka menjawab, "Ia adalah Fulan bin Fulan." Sambil menyebutkan namanya ketika di dunia.

12. Sesampai di langit, malaikat penjaga langit membuka pintu langit dan mempersilahkan masuk.

13. Para malaikat di langit memberikan salam keselamatannya baginya.

14. Begitu seterusnya sampai langit ke tujuh.

15. Lalu turun perintah, "Tulis namanya bersama golongan Illiyyun (golongan yang beruntung). Lalu kembalikan nyawanya ke dalam jasadnya di dalam tanah. Karena Aku telah berjanji bahwa Aku menciptakannya dari tanah, mengembalikannya ke tanah dan dari tanah pula Aku bangkitkan."

16. Lalu nyawanya dikembalikan ke dalam jasadnya di dalam tanah.

17. Lalu datanglah dua malaikat dan bertanya, "Siapa tuhanmu? Apa agamamu? Apa pendapatmu tentang seorang lelaki yang diutus di antara kalian?"

18. Ia menjawab, "Tuhanku Allah. Agamaku Islam. Lelaki itu adalah Rasulullah."

19. Malaikat bertanya lagi, "Dari mana kamu tahu?"

20. Dia menjawab, "Saya membaca kitab Allah lalu beriman dan mempercayainya."

21. Lalu datang penyeru dari langit, "Dia benar maka bentangkanlah kasur dari surga dan berikan pakaian dari surga lalu tunjukkanlah tempat tinggalnya di surga nanti."

22. Lalu kuburannya diluaskan seluas mata memandang.

23. Berhembuslah angin dari surga beserta aromanya yang wangi.

24. Lalu datang seseorang berwajah indah, berpakaian indah dan beraroma wangi.

25. Orang itu mengatakan kepadanya, "Beruntunglah menyambut hari ini. Inilah yang telah dijanjikan untukmu."

26. Ia bertanya kepada orang itu, "Siapa kamu? Wajahmu berseri-seri penuh kebahagiaan?"

27. Orang itu menjawab, "Aku adalah amalanmu yang baik."

28. Kemudian ia berdoa, "Ya Allah, segerakanlah hari kiamat supaya aku bisa segera berkumpul kembali dengan keluarga dan hartaku."

29. Allah SWT berfirman, "Dia (Allah) akan meneguhkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang teguh di dunia dan di akhirat." (QS. Ibrahim: 27)

(HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak)